Logo Baru Produksi Film Negara - PFN

18:03
Logo Baru Produksi Film Negara - PFN
Sorong, 999-logo.blogspot.com Perkembangan perfilman di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1926 ketika seorang produser film bernama David membuat film bisu berjudul Lely Van Java di Bandung. Kemudian disusul oleh produser Kruger Co tahun 1927/1928 membuat film berjudul Eulis Atjih dan selanjutnya diproduksi film berjudul Lutung Kasarung oleh produser film Carli. Film ini sangat terkenal dan merupakan tonggak awal dari dunia perfilman di Indonesia. Bersamaan dengan itu dibuat juga film Tjunt Jonat oleh Wong Brothers dan Pareh oleh South Pacifik Film Co, pada tahun 1929/1930. Pada tahun 1936, di jalan Bidara Cina 123-125-127 (Sekarang Jl. Otto Iskandar 125-127 / lokasi PFN), seorang Belanda bernama Albert Balink dibantu oleh Wong Brothers mendirikan sebuah studio film bernama ALGEMENE NEDERLANDS INDISCHE FILM (ANIF) yang bergerak membuat film film berita (newsreels) dan film cerita (feature film).
Baca Juga :

Di studio ANIF ini film “BICARA” (TALKING PICTURE) yang pertama dibuat di Indonesia oleh seorang produser Belanda bernama Manus Fraken dan Albert Balink. Film pertama yang diproduksi berjudul “Terang Boelan” yang dibintangi oleh R.Muctar dan Rukiah , dan naskahnya  dibuat oleh penulis Saerun.
Logo Baru Produksi Film Negara - PFN

Pada tahun 1940 ANIF jatuh bangkrut dan dijual kepada NV. Multi Film Harlem Holland.  Sejak itu NV. Multi Film Harlem hanya membuat film film berita dan Dokumenter. Pada tahun 1941 pecah perang Asia Timur Raya dan awal tahun 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Dengan menyerahnya Hindia Belanda kepada tentara  Jepang, maka seluruh kekayaan yang berada dibawah kekuasaan Hindia  Belanda diambil oleh tentara  Jepang termasuk NV Multi Film yang kemudian namanya diganti dengan Nippon Eiga Sha dibawah pengawasan Sandenbu (Barisan Propaganda) bala tentara Jepang yang dipimpin oleh Kol. Matshushida dan seorang sipil bernama S.Ohya. Nippon Eiga Sha sendiri dikepalai dengan oleh seorang Jepang yang bernama Ishimoto dan wakilnya seorang Indonesia yang bernama R.M. Soetarto. Nippon Eiga Sha dibawah pimpinan Ishimoto memproduksi  film berita , Film Dokumenter , Film Cerita , dan membuat Recording Film-Film Jepang dalam Bahasa Indonesia. Film Nippon Eiga Sha diedarkan oleh kantor Peredaran Eiga Haikyu Sha .


Pada tahun 1945 karyawan film Indonesia yang bergabung dalam Berita Film Indonesia (BFI) yang dipimpin oleh R.M. Soetarto melakukan liputan peristiwa- peristiwa sejarah, termasuk perang kemerdekaan RI, secara sembunyi sembunyi walaupun berada dibawah ancaman dan pengawasan tentara Jepang dan Nippon Eiga Sha. Peristiwa yang sangat bersejarah yang dapat diabadikan oleh BFI antara lain rapat raksasa dilapangan Ikada pada tanggal 19 September  1945. Rapat ini merupakan rapat besar pertama yang dilakukan oleh pemerintahaan RI setelah proklamasi Kemerdekaan.
Sumber : http://pfn.co.id/
Previous
Next Post »
0 Komentar